Sebelum menulis, saya telah menyempatkan diri selama lima detik untuk tertawa kecil, karena topik yang saya angkat kali ini adalah tentang seputar pertanyaan yang seringkali menjadi sumber galau praktisi parkour manapun yang telah mengenyam bangku jomblo alias bersatus in relationship.
Pernah saya membaca status teman parkour yang berbunyi "Pilih mana, parkour atau pacarmu?". Status tersebut telah sukses membuat scrolling yang saya lakukan terhenti di situ.. Kekepoan saya belum terhenti karena status yang menggelitik itu ternyata menuai banyak komentar di dalamnya. Katakan ada dua kubu komentator, yaitu parkour dan non parkour. Variasi komentar bermacam - macam  dimana beberapanya sesuai prediksi saya. "Pilih parkour brooh, cewe masih banyak", "Parkour aja dulu mas mumpung masih muda", "Cewenya diajak latian  mas, enak dua - duanya dapet", semua tersebut komentar dari kubu parkour. Dari non parkour, "Tak dukung parkournya mas, jadi kalo pedekate sama cewe dikasih jurus loncat - loncatnya, pasti ga nolak mereka", "cewe dong, kan buat masa depan" dan beberapa komentar lucu lainnya yang terlalu banyak kalau saya sampaikan semuanya di sini.


Tidak cuma sekali tapi pertanyaan ini muncul sebagai status serupa yang ditanyakan oleh beberapa praktisi parkour yang berbeda lagi. Status pertama saya baca dengan senyum dan tertawa kecil, status kedua saya menyikapinya dengan sedikit miris dan empati pada mereka karena saya berpikir tidak semestinya parkour malah menjadikan dan memunculkan masalah di hidupnya. Status ketiga dan berikutnya yang serupa sudah pasti buat saya muak.

Pertanyaan - pertanyaan tersebut, saya melihatnya bahwa hal itu adalah sebagai bentuk fase hidup yang sedang dialami oleh praktisi yang bersangkutan. Fase dimana individu dihadapkan pada kenyataan - kenyataan yangmeminta keputusan dari individu yang terkait. Fase yang menuntut individunya untuk mampu menerima dan beradaptasi terhadap perubahan. Lebih mudahnya, saya akan jelaskan lebih terperinci tentang apa yang saya maksud tentang fase hidup ini.

Manusia mempunyai banyak fase di hidupnya. Masih ingat masa diimana kita tidak pernah memikirkan urusan - urusan asmara? Bisa dikatakan itu adalah masa sebelum pubertas. Yang ada di pikiran kita pada saat itu adalah bermain dan belajar. Lalu sedikit majukan ingatan kita ke masa remaja atau masa pubertas. Itu adalah masa dimana kita mulai mengalami perubahan di sana - sini tentang pola pikir. Kita mulai tertarik terhadap lawan jenis dan perlahan melupakan bermain. Kita masih bermain pada masa ini tapi kedewasaan mendominasi pola pikir kita dan memodifikasi jenis bermain yang dilakukan.

Sekarang kenali diri kita sedang di masa yang manakah ketika kita mengenal parkour? Taruhlah saya sebagai contoh dimana saya adalah remaja belasan tahun yang sedang berada di masa transisi menuju pubertas dan ini adalah masa - masa dimana saya mengenal parkour.
Sebelum saya melanjutkan ceritanya, saya ingin mengingatkan anda yang pernah membaca tulisan saya yang lain yang berjudul Aturan Parkour dan mengajak anda yang belum membacanya untuk memahami tulisan saya disitu dimana saya menyinggung tentang parkour memiliki kemampuan alami untuk mengeliminasi praktisinya yang tidak berkompeten atau  tidak memahami baik apa itu parkour.
Lantas apa yang saya maksudkan disini? Apa yang saya coba korelasikan antara penggalan cerita saya dengan praktisi parkour yang tersingkir oleh alam? Maka dari itu penggalan cerita di atas saya sambung kembali bahwa saya sebagai praktisi parkour yang telah mengenal parkour di usia belasan ini secara psikologi, saya memandang segala sesuatu yang menarik saya adalah sebuah permainan, termasuk juga parkour. Setelah saya mengingatkan kembali di atas bahwa parkour bisa menyingkirkan  praktisi yang tidak memahaminya, saya yang notabene praktisi parkour remaja ABG, saya berpotensi besar sekali untuk hengkang dari dunia per parkour an lebih cepat, karena apa yang terjadi ketika parkour saya pandang cuma sebagai sekedar sebuah permainan? Bisa jadi parkour adalah hobi musiman buat saya untuk mengisi waktu luang saja, bisa jadi saya mengalami kecelakaan yang tidak seharusnya terjadi.
Sebuah quote mengatakan "Parkour is discipline, it's not a game", yang artinya parkour adalah disiplin, bukan permainan. Quote lain mengatakan, "Parkour is free for all" yang berarti parkour bebas untuk siapa saja. Lalu apakah ABG seperti saya tidak pantas atau belum boleh untuk belajar parkour hanya karena saya memandang parkour sebagai permainan?
Tidak, sampai kapanpun parkour tetap free for all, semua orang berhak untuk belajar parkour. Yang dibutuhkan untuk kasus ABG saya adalah seorang pembimbing yang mau dengan senang hati menuntun dan membimbing saya dalam belajar parkour sehingga saya bisa tetap berada di parkour sampai kedewasaan berpikir bisa saya dapatkan untuk memahami parkour lebih baik lagi.

Saat kedewasaan belum menghampiri, dan parkour adalah permainan yang membuat saya kecanduan, seluruh hari - hari saya penuh dengan parkour. Parkour, parkour dan parkour..dan wanita. Ya akhirnya saya menyukai wanita dan memacarinya. Ini adalah masa - masa dimana saya update status tentang pacar saya yang sebelumnya banyak status ter-update bertema parkour. Sebulan terlewati dengan baik - baik saja, pacar saya bilang di awal kalau parkour itu keren dan dia terlihat bangga bahwa saya adalah praktisi parkour. Kira - kira kalau saya update status di facebook lagi, mungkin terbaca seperti ini, "Akuwh chayaaaaank banGeDt ama Amuwh, bSok temeninD latian lg yawH?". Sebulan itu adalah sebulan dimana saya berprediksi bahwa hubungan kita akan baik - baik saja.
Masuk ke bulan berikutnya, semua berputar 180 derajat. Saya merasa tidak lagi mengenal baik pacar saya. Saya mulai tidak memahami wanita. Padahal saya tidak pernah selingkuh tapi pacar saya terlihat cemburu. Hasil akhir yang saya dapatkan dari pertengakaran sengit itu adalah pacar saya cemburu pada parkour. Dari situ muncullah status yang saya ketik pertama kali di atas, yaitu "Pilih mana, parkour atau pacarmu?"

Untuk remaja ABG, status facebook seperti itu adalah wajar. Sangat tidak wajar kalau status itu update dari akun  seseorang yang harusnya secara usia dinilai telah dewasa dan matang dalam berpikir. Tetapi jika hal ini adalah fakta dan nyata terjadi pada mereka yang telah dewasa kemudian galau memilih antara parkour atau pacar, maka satu - satunya hal yang bermasalah adalah dirinya, bukan parkour, bukan pula pacarnya. Orang - orang seperti ini adalah calon praktisi parkour yang akan tereliminasi dari parkour karena dia tidak bisa menempatkan posisi parkour di hidupnya. Meskipun itu dia memilih parkour daripada pacarnya, keputusan itu tidak merubah keadaan bahwa dia adalah calon praktisi yang tereliminasi. Sekali dia salah menempatkan parkour dalam hidupnya, parkour tetap akan ada di hidupnya sebagai sebuah masalah.. Tanpa adanya pembenahan persepsi, pemahaman dan cara pandang kita terhadap parkour, pacar adalah masalah simpel yang bisa terlewati hanya dengan ambil keputusan untuk memilih parkour dan tinggalkan atau putuskan si pacar. Namun berubah jadi masalah besar saat kita maju ke jenjang pernikahan. Masihkah kita masih curhat di status facebook? "pilih mana, parkour atau istrimu?". Jika ya, maka saya adalah orang pertama yang paling tertawa lebar disini.

Mari kita kembali menilik apa itu parkour, untuk ini saya mengajak anda untuk membaca tulisan saya yang lain berjudul Kecelakaan dan Parkour dimana saya menyinggung tentang fungsionalitas dari kegunaan pisau buah. Sesuatu apapun diciptakan dengan tujuan yang sebenarnya. Contoh, gunting diciptakan untuk memotong, penggaris sebagai alat bantu untuk membuat garis bantu, palu atau martil untuk memukul. Sekarang gunakan benda - benda tersebut untuk tujuan yang bukan tujuan  sebenannya dari benda tersebut diciptakan. Contoh, gunakan gunting untuk membuat garis lurus, penggaris untuk memukul, dan palu untuk menggunting. Bisakah benda atau alat - itu digunakan untuk tujuan yang lain? Kira - kira apa yang terjadi? Saya menjawabnya, sangat memungkinkan benda - benda tersebut berhasil melakukan pekerjaan lainnya tapi bisa saja terjadi malfungsi disana. Palu biasa digunakan untuk memukul benda keras seperti paku. Penggaris bisa saja dipukulkan ke paku tapi malfungsi ini akan memberi dampak lain bagi penggaris, bisa jadi penggaris ini rusak lebih cepat daripada penggaris lain yang digunakan dengan tepat dan sesuai fungsinya.

Lalu apakah parkour itu? Dari analaogi di atas, akankah kita masih tidak peduli apa itu parkour dan terus melanjutkan berlatih parkour dengan salah? Masihkah kita letakkan parkour di hidup kita di posisi yang salah? Masihkah kita merubah fungsi parkour dan merasa benar?
Tahukah kita, sadarkah kita apa yang kerap kita lakukan di parkour?ya, yang saya maksudkan adalah kita selalu berlari, loncat, vaulting terhadap obstacle. Kita kerap kali selalu belajar untuk menghadapi obstacle dan obstacle ini memiliki arti yaitu rintangan yang berarti juga sebagai masalah. Maka ketika berbicara tentang parkour, jangan melihatnya dari sudut pandang yabg sempit yaitu sebagai olah tubuh yang loncat sana kemari tanpa tujuan jelas.
Sekali lagi parkour mempunyai visi yang sama terhadap visi kita di kehidupan. Di parkour kita belajar melewati obstacle, di hidup kita belajar mengatasi masalah.
Saya cukup membuka satu kesadaran bentuk tentang parkour di atas untuk menjawab bagaimana seharusnya kita melihat parkour agar tidak membuatnya ada di dunia malah sebagai masalah. Yaitu kesadaran bahwa parkour harusnya kita pandang sebagai media, metode atau cara kita untuk mengatasi masalah (obstacle). David Belle mengatakan parkour ini sebagai way of life. Bagaimana bisa Sebuah cara untuk menyelesaikan masalah ini berakhir sebagai masalah itu sendiri? Maka saya jawab bisa, hal ini terjadi karena adanya malfungsi di parkour. Kenapa bisa malfungsi? Karena kita salah persepsi tentang parkour. Dengan kata lain, kita salah menganggap bahwa sebuah palu itu memiliki fungsi untuk memotong.

Malfungsi parkour dalam konteks "parkour atau pacar" adalah kita memandang parkour sebagai sekumpulan nama - nama gerakan dan trik - trik yang kita tekuni tiap hari dimana tujuan dari kesemuanya itu adalah kita menjadi seorang movement bender atau penguasa gerakan. Karena itu yang kita lihat dan pahami tentang seperti apa itu parkour, maka kita akan menghabiskan hari - hari dengan parkour, parkour dan parkour. Secara tidak sadar kita akan terbius bahwa hidup kita mulai tidak seimbang.
Bagi mereka yang ABG, menjadi keren adalah prioritas yang paling tinggi di masanya. Lebih tinggi dari urusan - urusan lainnya seperti sekolah, dan keluarga misalnya. Dan parkour menyuguhkan solusi yang sempurna untuk kebutuhan primernya yaitu keren. Kemudian muncul sisi atau urusan lain selain keluarga dan sekolah dan urusan ini adalah urusan yang sama pentingnya dengan menjadi keren yaitu wanita atau pacar atau asmara atau cinta karena kedudukan keduanya saling terkait, menjadi keren untuk mencari pacar dan berpacaran untuk menjadi keren.
Dan muncul masalah ketika parkour yang notabene dianggap sebagai aktifitas yang menyita waktu ini (karena selain keren ternyata parkour juga aktifitas yang adiktif) bertemu dengan urusan cinta.

Dari sekian bentuk dan wajah parkour yang ada di dunia ini, parkour yang sebenarnya tetap ada dan bekerja karena proses alami yang akan menyingkirkan mereka yang lemah dan menyisakan yang benar dan kuat.

Artikel dibuat oleh Langit Wira
Editor: Andreas Lucio Ivanno