Sejarah ScAPE Parkour Surabaya

Tahun 2007 menjadi tahun-tahun paling awam bagi masyarakat Indonesia khususnya Surabaya. Hanya beberapa, satu-dua saja, tidak banyak kata parkour terdengar, terbaca bahkan terlihat kegiatan parkour di tengah masyarakat pada saat itu. Namun sebuah film asal Perancis berjudul Yamakasi merupakan sebuah film aksi yang bisa dibilang film parkour pertama di Indonesia dan tanpa satupun kata parkour terlontar di dalamnya. Gabriel Mayo, seorang pemuda, drummer dan sekaligus mahasiswa UBAYA pada masa itu sedang penasaran tentang film Yamakasi yang baru saja ditontonnya. Rasa keingintahuannya yang besar membuat Mayo berselancar via internet dan menemukan sebuah kata yang menjadikannya kata kunci sekaligus awal tonggak sejarah Komunitas Parkour Surabaya berdiri dan terbentuk. Yes, he's the man, he's the founder, dialah pendiri Komunitas Parkour Surabaya yang kala itu menemukan kata "parkour". Seorang diri, Mayo mendalami apa yang dia pahami tentang parkour dari informasi dan artikel-artikel yang minim di internet. Pada masa itu memang sulit mendapatkan informasi tentang parkour tapi sekalinya menemukan, itu merupakan informasi parkour yang bisa dibilang sumber parkour yang tepat mengingat semakin tahun, parkour semakin kehilangan maknanya. Kembali membudayakan hidup sehat, Mayo memulainya dengan jogging pagi hari sebelum berangkat kuliah, push up, sit up dan varian latihan fisik lainnya yang bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Hingga teman satu bandnya terlihat terkejut melihat perubahan yang terjadi di pribadi Mayo, Mayo harus menjelaskan apa yang membuatnya berubah pada teman-temannya saat temannya melihat Mayo terpergok sedang melakukan sit up di sela-sela latihan musik. Juga ada yang melihatnya ketika sedang asyik melakukan quadrupeddal di kampusnya dan beberapa kawan lain yang harus Mayo jelaskan tentang parkour. Beberapa dari mereka tertarik akan penjelasan parkour dari Mayo, beberapa tidak. Mereka yang tertarik, mencoba untuk ikut latihan bersama Mayo. Mereka mulai menetapkan jadwal untuk latihan bersama Suatu saat, Iko, seorang teman yang berkuliah di kampus ITS Sukolilo Surabaya mengajak Mayo dan kawan-kawan untuk mencoba spot-spot yang ada di lingkungan kampus ITS tersebut. Obstacle yang beragam membuat Mayo dan kawan-kawan merasa nyaman untuk berlatih disana. Jadwal rutin mulai ditetapkan sejak saat itu. Selang beberapa hari, anggota baru banyak bermunculan. Mayo pun juga harus sibuk membagi waktunya dengan kegiatan lain. Sering kali tanpanya, mereka tetap berlatih sesuai jadwal namun tidak berlatih sebagaimana mestinya parkour harus dilatih. Bagaikan anak kecil, para penyuka parkour ini hanya datang berlatih untuk mempelajari dan menguasai gerakan-gerakan yang memiliki banyak penamaan dan itu sangatlah menyenangkan. Banyaknya anggota baru yang berdatangan, membuat perkumpulan ini berinisiatif untuk menemukan sebuah nama yang tepat sebagai sebutan mereka. "Escape",salah satu nama yang muncul atas dasar bahwa parkour juga merupakan suatu bentuk beladiri yaitu melarikan diri meskipun disinyalir penamaan tersebut muncul atas dasar pelarian dari kegiatan perkuliahan yang seringkali dirasa penat oleh praktisinya yang sebagian besar adalah mahasiswa. Escape sendiri menjadi nama yang ambigu dalam penulisannya karena seseorang berpendapat lain bahwa harus ada nama kota Surabaya dalam nama komunitas ini. Seseorang yang lain menjawab huruf "S" dalam kata Escape adalah singkatan dari Surabaya sehingga berubah jadi EScape. Yang lain lagi berusul untuk menanggalkan huruf "E" pada Escape maka berubah jadi Scape. "Lantas ketika Scape adalah sebuah singkatan, harusnya tidak cuma satu huruf yaitu"S" saja yang mempunyai kepanjangan. Apa kepanjangan untuk huruf yang lain?", pertanyaan lain terlontar. Pembahasan nama ini selesai dengan akhir yang mengambang karena mereka mendiskusikannya dalam keadaan berjalan untuk hijrah ke spot yang lain di ITS. Suatu ketika, mereka mendapatkan kesempatannya yang pertama untuk muncul di surat kabar. Usai sesi pemotretan, wartawan mengajukan beberapa pertanyaan untuk mengisi liputannya hingga mereka menanyakan apa nama yang diberikan untuk komunitas ini. Terkesan seperti menjawab pertanyaan yang susah, mereka beberapa detik terdiam berpikir dan nama terakhir yang mengambang itu diputuskan untuk digunakan menamai mereka yaitu Scape. Seorang teman yang mengajukan pertanyaan terakhir tak terjawab sebelumnya menanyakan kembali di saat yang tidak tepat dan membuat mereka berdiskusi lagi bersama dengan reporter surat kabar. Muncullah sebuah nama Surabaya Community of Ape yang disingkat ScAPE. Sebuah nama berbahasa Inggris yang dinilai mereka sangat keren meskipun terdengar aneh di telinga. Huruf "c" yang kecil diantara huruf besar yang lain diartikannya sebagai mereka adalah komunitas kecil di Surabaya dimana parkour sebagai aktifitasnya yang masih relatif belum banyak dikenal dan digeluti masyarakat saat itu. Jelas atau tidaknya asal usul sebuah nama, tetap saja ScAPE telah menorehkan namanya dalam sejarah parkour di Surabaya. Bisa saja mereka adalah komunitas pertama yang ada di kotanya dan yang pasti, mereka adalah kami yang masih berdiri hingga kini.
Kami adalah sekelompok pemuda yang masih belia dalam mendalami parkour saat itu, tanpa informasi yang cukup dan pengetahuan yang matang, kami banyak menghabiskan hari-hari kami untuk berlatih, dalam arti lain, kami bersenang-senang. Tidak ada artikel-artikel penting yang bisa kami baca dan pahami dan pelajari dalam parkour. Kami banyak menyalahartikan prinsip, seperti salah satunya, "no pain, no gain", kami menerjermahkannya luka adalah hal yang biasa di parkour, tanpa luka berarti kami tidak belajar. Suatu ketika Danimaru, sahabat kami mencetak sebuah artikel untuk kami baca. Artikel berjudul Delusi yang ditulis oleh Chris Rowatt, seorang praktisi parkour yang kini menjadi seorang instruktur di Parkour Generation. Banyak pesan yang ingin penulis sampaikan disana tapi kami bagaikan anak kecil yang mempunyai mainan baru sehingga tidak ada orang yang bisa mengingatkan kami bahwa kami salah dalam memainkan mainan baru tersebut. Kamipun terus bermain, berlari, meloncat, bergantung. Semakin tinggi, semakin cepat, semakin berbahaya yang kami lakukan dan sukses adalah satu bentuk pencapaian berbonus tepuk tangan yang kami cari.
Bermain dengan ketinggian adalah favorit kami, karena tanpanya, kami menganggap identitas sebagai praktisi parkour akan kurang terlihat pada diri kami. Seseorang dari kami menjatuhkan diri dari ketinggian 2,5 meter dengan tulang kaki patah ketika telah sampai di bawah. Menjadi sebuah momen tak terlupakan dalam sejarah kami. Setelahnya, banyak dari kami yang menghilang dari ScAPE hingga tersisa beberapa yang bertahan. Peristiwa itu banyak memberi pelajaran bahwa apa yang kami lakukan tidak seharusnya secepat itu. Banyak proses di parkour yang kami percepat, banyak hal yang kami terima tapi tubuh menolaknya. Sebuah titik balik bagi kami untuk lebih mendalami parkour ke depannya.
Lutfi AKA Radd, adalah anggota ScAPE yang menghubungkan kami dengan Parkour Indonesia, sebuah komunitas besar parkour yang ada di negeri ini untuk menaungi komunitas-komunitas parkour di tiap kota di Indonesia. Tanpa kami tahu, Lutfi jugalah salah satu pendiri Parkour Indonesia, karena Parkour Indonesia dulunya merupakan sekumpulan para pecinta parkour yang saling terhubung lewat Parkour.net dimana Lutfi juga sebagai membernya. Mereka saling sharing dan berdiskusi hingga memiliki misi untuk menyatukan praktisi parkour se Indonesia hingga muncullah Parkour Indonesia yang biasa disingkat PKID. Dengan menanungi banyak komunitas di tiap kota, PKID juga memiliki misi untuk melestarikan parkour, menjaga nama parkour dan menyebarluaskannya. Jamming Nasional atau Jamnas merupakan agenda rutin PKID yang ditunggu-tunggu tiap tahun untuk mengumpulkan praktisi-praktisi parkour se Indonesia di satu kota dalam sebuah acara gathering, sharing, jamming atau latihan bersama dan lain sebagainya. Sudah terjadi enam kali Jamnas diadakan, Malang, Bandung, jogja, Surabaya, Bali dan Jakarta untuk tahun 2014 ini. Dengan tergabungnya kami di PKID, banyak manfaat yang telah kami ambil, dari koneksi atau relasi yang ada di seluruh Indonesia hingga pengetahuan dan pemahaman parkour yang semakin lebih baik lagi. Terima kasih PKID. Jaya selalu!
Tahun demi tahun berlalu, parkour di komunitas ini bagaikan hutan bagi anggota-anggota kami. Siapapun yang lemah, dalam artian lemah pemahaman akan parkour akan hilang dengan sendirinya. Adanya hukum alam yang ada di parkour membuat kami banyak merelakan para sahabat-sahabat yang pernah berjuang bersama namun harus pergi karena pilihan dan pertimbangan yang bermacam-macam. Seandainya mereka jauh memahami makna parkour, keputusan untuk berhenti parkour tidak akan mereka pilih. Banyak generasi yang bergulir, banyak wajah datang dan pergi, banyak kesamaan nama dengan wajah dan cerita berbeda ini tidak membuat kami putus asa untuk terus menyuarakan parkour di Surabaya. Dalam keabuan makna parkour dewasa ini, kami ada untuk memperjelasnya, sejelas hitam dan putih.