Sadari bahwa kecelakaan bisa terjadi pada siapapun. Sadari pula bahwa kecelakaan juga merupakan pilihan. Jika kecelakaan adalah satu bentuk dari hal buruk yang terjadi, kita bisa memiliki pilihan yang lain yaitu hal baik dimana lawan kata dari kecelakaan adalah keselamatan atau selamat.
Saya bermain analogi disini, keburukan berlawanan dengan kebaikan, begitu juga kecelakaan berlawanan dengan keselamatan. Sekedar mengingatkan bahwa selalu ada pilihan dalam hidup, tinggal kita berada dalam upaya yang mana di hidup ini, sedang berupaya dalam kebaikan atau keburukan.



 1.1 Parkour Jawa Timur Coaching Clinic 2013 ( Surabaya )
 
Kecelakaan bisa saja terjadi saat kita sedang berada pada jalan yang benar (kebaikan). Bagi seseorang yang pintar dalam mengambil hikmah, kecelakaan ini menjadi sebuah pembelajaran yang berharga, kecelakaan ini memberikan sebuah pesan peringatan bahwa ada hal yang perlu dibenahi sehingga dia akan mengevaluasi diri dan bangun untuk mencoba kembali membenarkannya.
Bagi mereka yang mengalami kecelakaan namun pada jalan yang salah (keburukan), mereka seringkali kurang memahami arti dan hikmah atas apa yang menimpanya. Banyak pula dr mereka yang memberi hikmah dan pesan yang salah dari apa yang dialaminya. 

Kecelakaan bagi mereka seringkali diartikan "faktor x", "tidak beruntung" atau "apes". Ini adalah hikmah yang mereka simpulkan sehingga mereka tidak melakukan evaluasi diri dan pembenahan karena kecelakaan itu berakhir pada kesimpulan kata "apes". Sebuah kata sederhana yang mensugesti otak untuk berhenti berpikir dan mengevaluasi diri. Ketika mereka mencoba bangun dan mengulangi lagi, mereka sama halnya hendak melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kali.



1.2 Morning Class Parkour Surabaya ( 7 Juli 2011 )


Saya merumuskannya seperti berikut; melakukan sesuatu yang salah maupun benar, keduanya memiliki potensi untuk terjadi kecelakaan. Namun kita memiliki pilihan untuk meminimalisir kecelakaan dengan berusaha untuk berada di jalur yang benar.

Apa yang ada di pikiran anda ketika bahasan kecelakaan di atas saya kaitkan dengan parkour? Masihkah anda berpikiran seperti berikut; parkour dan kecelakaan itu sangat identik, parkour adalah olahraga ekstrim, jadi sangat wajar kalau terjadi kecelakaan atau malah parkour tanpa kecelakaan berarti sama dengan belum belajar parkour. Apakah kalimat-kalimat ini yang ada di kepala kita? Jika ya, saya yakin bahwa anda sangat berpengalaman sekali di bidang kecelakaan, namun kurang memahami parkour.
Sekarang saya akan mengajak anda untuk berandai-andai dengan permainan analogi lagi untuk mempermudah memahami parkour dalam konteks bahasan ini. Saya akan membuat permisalan dengan parkour adalah atau sebagai sebuah pisau buah.

Si A adalah orang baik, semasa hidupnya dia ingin menjadi orang yang berguna dan bermanfaat bagi orang lain di sekitarnya. Kemudian dia menemukan sebuah pisau, yang dia lakukan adalah mengenali jenis pisau apa yang dia temukan, terkadang dia mencoba menanyakan ke tiap orang yang dianggapnya mengerti, terkadang dia cari tahu di internet. Si A pun mendapatkan jawabannya bahwa pisau ini adalah pisau buah.
Si A mencoba memanfaatkan pisau itu untuk belajar mengiris dan memotong buah. Namun kecelakaan terjadi, pisau itu mengiris sedikit kulit dari ibu jarinya. Si A berhenti sejenak dan sembari mengobati lukanya, dia mencari tahu lebih lanjut bagaimana cara mengiris buah yang benar. Dia menemukannya, kemudian dia belajar dari kesalahan dan belajar menggunakan pisau itu kembali, sukses dengan potongan buah yang pertama, dia mengulangi dengan buah yang kedua hingga banyak buah yang terpotong hanya untuk meyakinkannya bagaimana memotong buah dengan benar. Si A tidak berhenti disitu, dia mulai belajar memotong beberapa buah yang berbeda karena beda buah, beda pula cara mengupas kulit dan memotongnya. Bahkan dia memahami ada beberapa buah yang tidak bisa dipotong dengan pisau buahnya seperti kelapa dan aren. Dia menikmati hasil kerjanya untuk membantu hidupnya sendiri. Sejak dia menemukan pisau buah itu, banyak perubahan positif di hidupnya. Dari sebuah pisau, dia memahami banyak wawasan tentang buah dan manfaatnya bagi kesehatan. Sekarang si A dikenal banyak orang karena restoran makanan kreasi buahnya mampu menyadarkan masyarakat tentang hidup sehat.

Di sisi lain, si B adalah seorang yang tidak suka berpikir kritis dan analitis, malah si B adalah tipe orang yang terlalu obsesif dan sering berpikir negatif. Banyak dendam yang mengisi hidupnya. Baginya, hidup bagaikan kompetisi dimana dia harus menang apapun caranya. Suatu saat si B menemukan sebuah pisau. Yang dia lakukan adalah membawanya dengan wawasan sekedar tahu bahwa pisau yang dibawanya itu tajam. Suatu saat, si B sedang berselisih dengan orang di jalan, dia berpikir itulah alasan mengapa dia menemukan pisau. Tanpa perlu penjelasan kronologis, si B berhasil melukai dan membuat takut orang itu. Sensasi ketika mengayunkan pisau, kepuasan ketika membuat orang lain takut padanya, perubahan drastis ekspresi lawan dari ekspresi menantang berubah menjadi tunduk dan takluk di hadapannya membuat si B menikmatinya dan ketagihan. Keesokan hari si B yang sengaja menciptakan perselisihan terlebih dahulu kepada orang lain di jalan. Sekali lagi si B berhasil menunjukkan pisaunya dan menakuti orang lain. Hal ini berulang-ulang dia praktikkan hanya untuk membuatnya disegani orang lain, membuatnya dianggap tidak ada yang bisa mengalahkannya hingga suatu saat dia mengulanginya lagi. Dia bertemu dengan orang dan menantangnya. Seperti biasa, pisau dikeluarkannya tapi lawannya tidak menunjukkan ekspresi takut sedikitpun. "kau pikir kau bisa membunuh orang dengan pisau buah?", tanya orang itu pada si B. Pertanyaan yang itu tidak membuatnya takut tapi pengetahuan sempitnya yang membuatnya khawatir. Dia tidak mengetahui bahwa pisau yang digenggamnya ternyata pisau buah.

Tidak ingin ketakutan mendominasinya, si B menyerangnya terlebih dulu dengan pisaunya dan kecelakaan menimpanya, mata pisau buah itu terlepas dari pegangannya dan mengenai tubuhnya sendiri.
Tidak seperti si A, si B tidak mempunyai waktu untuk selamat dari kecelakaan karena dia tidak memahami pisau apa yang digenggamnya, dia tidak memahami fungsi utama pisau yang digenggamnya, dia tidak bijaksana terhadap semua tindakannya.




 1.3 Jamming Nasional Parkour Indonesia 2013 ( Surabaya )

Sama halnya dengan parkour, mengenali dan memahami terlebih dahulu apa dan seperti apa parkour itu merupakan salah satu sikap tindakan meminimalisir kecelakaan yang paling utama. Menjadi kritis dan analitis di parkour sangatlah penting seperti kita menyikapi sebuah granat sebelum kita memainkannya untuk bermain bola.
Menempatkan diri dalam bahaya merupakan tindakan yang ekstrim dan parkour bukan kegiatan ekstrim. Di parkour seharusnya kita memposisikan diri untuk siap terhadap bahaya.
Apa yang kita lihat dan anggap tentang parkour akan sama terhadap apa yang kita dapat darinya.


Artikel dibuat oleh Langit Wira
Editor: Andreas Lucio Ivanno