scape

Spheres Trinity adalah sebuah film toku asli Indonesia yang dipersembahkan oleh Origin  Picture.


Sinopsis Film
Pada sebuah dunia diantara cahaya dan kegelapan terdapat Spheres , Spheres dapat memberikan kekuatan pada mahluk hidup, kekuatan untuk kebaikan kekuatan untuk kejahatan.
Selama berabad-abad lamanya selalu ada peperangan antara cahaya dan kegelapan , pertempuran mereka sangat dahsyat dan tiada akhir , hingga suatu saat … tiada lagi cahaya , tiada lagi kegelapan , hanya kehampaan.
Akan tetapi, masih ada beberapa pecahan meteor sepenggal kenangan yang terlontar dari dunia berteknologi tinggi yang terlupakan tersebut , menempuh perjalan jauh dan terdampar pada sebuah dunia yang masih murni , dunia yang masih berjuang untuk dapat bertahan hidup … Dunia kita.
Sphere mempunyai kekuatan , kekuatan untuk kebaikan, kekuatan untuk kejahatan , kekuatan yang dapat mengubah dunia , namun pada setiap sinar yang bercahaya akan selalu ada bayang-bayang kegelapan dan bahkan ksatria terbaik sekalipun dapat terjatuh kedalam lembah kegelapan , hanya mereka yang berhati tabah dan berkemauan kuat yang dapat bertahan , hanya mereka yang memiliki kejujuran , keberanian dan cinta kasih.

Spesial Trailer 


Parkour Surabaya di Episode 3



Jika video tidak muncul di mobile version silahkan klik Spesial TrailerSpheres episode 3
Origin's Channel : Origin Picture
Informasi kerja sama dengan Parkour Surabaya  : Layanan

Posted on Saturday, May 24, 2014 by Parkour Surabaya

No comments

scape

Apa yang terjadi bila seorang pemain bola menendang kepala lawan dalam pertandingan sepakbola? Apa yang terjadi jika tendangan dilakukan oleh seorang petinju pada pertandingan tinju? Apa yang terjadi bila seseorang berlari ke garis finish tanpa mengenakan karung pada lomba balap karung? 
Jawaban tepat untuk tiga ilustrasi di atas adalah melanggar aturan. 

Cabang olahraga apapun, semua mempunyai tujuan. Salah satu contoh adalah basket yang mana tujuan permainan ini adalah memasukkan bola ke dalam ring lawan. Namun dalam mencapai tujuan tersebut, masih dibutuhkan aturan-aturan yang diberlakukan untuk menjaga sportifitas dalam permainannya. 

Untuk memasukkan ke dalam ring, pemain basket tidak diperbolehkan dengan hanya sekedar membawa bola dan memasukkannya, melainkan mereka harus memantulkannya ke lantai (driblling) dalam bergerak dan membawa bola untuk tujuannya memasukkan bola dalam ring lawan. Permainan basket tanpa driblle akan mustahil untuk disebut basket.


 1.1 Dwi Marluddiyanto dan Langit Wira di car free day raya darmo ( Photo by Antarafoto.com )

Di parkour, aturan apa yang berlaku? Banyak dari kita yang masih terjebak di pemikiran bahwa tujuan parkour adalah untuk menguasai 1001 gerakan "wah" yang banyak dan sering dipersembahkan oleh youtube ketika kita sedang menonton video parkour. 

Banyak pula media yang menggiring pemahaman kita terhadap parkour bahwa salto / flip adalah bagian dari gerakan parkour, bahkan flip ini menjadi gerakan wajib yang harus kita mampu lakukan di parkour. 
Jika itu di atas masih menjadi anggapan kita terhadap parkour, sangat dimungkinkan muncul aturan-aturan dalam parkour. Dengan begitu parkour akan dipahami menjadi seperti berikut,
parkour adalah olahraga yang bertujuan untuk menguasai banyak gerakan hebat dengan aturan praktisi harus wajib bisa melakukan flip.

Berbicara tentang parkour disamping sepakbola, tinju dan basket seakan kita berbicara tentang kesamaan diantara kesemuanya dan itu adalah olahraga. Namun diantara ketiganya, parkour adalah olahraga yang tidak dipertandingkan. Karena hal itulah yang menjadi salah satu alasan bahwa parkour tidak memiliki aturan yang harus disepakati bersama. "No rule - No competition", dua kata tersebut banyak dan sering disuarakan oleh para OT (Orginal Traceur) atau pendahulu - pendahulu parkour. 

Dua kata yang dinilai cukup lantang untuk menjaga kelestarian nilai - nilai positif yang ada di parkour, nilai yang jauh lebih berharga dibanding apa yang didapat dari hasil ketika kita mengkompetisikan parkour. Nilai - nilai kehidupan seperti semangat untuk mengembangkan diri lebih positif karena inisiatif diri yang kuat, jiwa menolong dan saling membantu (altruisme), kesuksesan yang didapat karena usaha dan proses yang tidak instan dan banyak nilai yang lain akan hilang jika kompetisi mewarnai dunia parkour.

Meskipun No rule - No competition adalah pesan yang terus disuarakan hingga kini, parkour is a rule and a competition though atau parkour sebenernya memiliki sebuah aturan dan merupakan sebuah kompetisi. Parkour merupakan sebuah disiplin yang memiliki aturan jelas dan tegas. Aturan yang diciptakan tanpa campur tangan manusia, aturan yang terbentuk tanpa perlu kesepakatan bersama antar praktisi, aturan yang diciptakan Tuhan untuk alam, aturan tegas tanpa cacat dan sempurna yang bisa mengatur jalannya permainan di parkour. Kita bisa menyebut aturan ini sebagai hukum alam. Hukum yang diciptakan sejak alam diciptakan dan parkour bekerja di bawah prinsip, aturan dan hukum alam.


1.2 Jamming Regional Parkour Jawa Timur 2011 Surabaya

Sebutkan apa yang tidak bahwa aturan yang berlaku di parkour adalah bukan hukum alam? Kita bukan Superman yang memiliki pilihan jatuh ke tanah tanpa hancur atau terbang ketika kita terjatuh dari ketinggian tapi kita adalah buah apel yang jatuh dari pohonnya. Kita masih berada di dunia dimana ilmu fisika masih diperhitungkan. Kesadaran atas aturan alam ini yang membuat parkour seharusnya bukan terkategori sebagai olahraga ekstrim dimana nyawa kita pertaruhkan karena kita meletakkan diri kita dalam bahaya. Sebaliknya, aturan alam ini yang harusnya membuat parkour diletakkan sebagai media bagi kita untuk mempersiapkan diri untuk bahaya. Sebagai contoh, gerakan roll adalah solusi dalam parkour untuk mengadaptasi alam dimana gravitasi selalu konsisten menarik kita ke bawah namun memposisikan tubuh bulat saat melakukan roll dapat memanipulasi impact yang dihasilkan.

Lepas dari hukum gravitasi, berikut ini juga merupakan aturan dan hukum alam yang juga berlaku dalam parkour. Bagaikan audisi - audisi pencarian bakat yang ada di stasiun televisi, parkour dengan hukum alamnya juga senantiasa menseleksi praktisi - praktisinya. Semacam hukum rimba, parkour akan menyingkirkan mereka yang lemah. Di antara sekian kategori kaum lemah yang ada di parkour, mereka yang lemah akan pengetahuan dan pemahaman parkour adalah yang paling rentan diantara lainnya.

Saya membagi menjadi 3 level tentang bagaimana parkour membuang mereka yang lemah akan pemahaman dan pengetahuan parkournya :

1. Easy 

Level ini adalah level terhalus tentang bagaimana
parkour mengusir mereka. Saya ilustrasikan seperti praktisi yang tertarik dengan parkour karena video - video parkour yang dinilai mereka keren sehingga mereka mencoba untuk bergabung dengan komunitas parkour yang ada di kotanya. Lalu mereka kecewa karena ternyata untuk belajar parkour butuh waktu lama dan butuh latihan fisik yang berat. Karena itu tidak sesuai dengan apa yang mereka kira, sampai disitu mereka berhenti di parkour.

2. Medium 

Sesuai namanya, level ini adalah level sedang yaitu tentang bagaimana parkour dengan hukum alamnya mengeliminasi praktisi yang tidak berkompeten di parkour. Diilustrasikan sebagai berikut; Seorang yang kurang memahami parkour sedang berlatih vaulting. Berbekal pengalaman visual dari youtube dan ingatan seadanya mengenai king kong vault yang dilihatnya, seseorang ini mempraktikannya tanpa tahu bagaimana mempelajarinya secara mudah dan aman untuk dipraktikannya. Yang dilakukannya adalah gerakan spontan dengan sekejap mengkoordinasikan antara otak yang sedang mengingat bentuk kingkong vault tersebut dengan tubuh untuk diinstruksikan serupa dengan apa yang ada di otaknya. Namun malang nasib seseorang ini karena patah tulang membuatnya harus berhenti sejenak dari parkour dan ternyata berhenti sejenak ini berarti selamanya karena pemahaman kurangnya atas parkour membuat insiden ini memberikan trauma dan janji untuk berhenti parkour.

3. Hard 

Tanpa banyak basa basi dan penjelasan ilustrasi, hard ini adalah level dimana parkour dengan hukum alamnya menghilangkan praktisi parkour yang tidak memahami parkour dengan cara menghentikan parkournya tanpa kesempatan kedua kali. Kata lainnya adalah tewas. Belum lagi ternyata disitu ada orang awam yang melihat kejadian tersebut dan menyimpulkan bahwa orang itu tewas karena parkour dimana anda yang memahami situasi ini melihat bahwa kesalahan adalah pada pelaku yang bersangkutan (human error) karena tidak memahami bagaimana parkour bekerja dan bagaimana menyikapinya.

Dan parkourpun sebuah kompetisi. Kompetisi yang benar - benar sehat dan adil karena dengan siapa kita berkompetisi di parkourlah yang menjadikannya itu adil. Di parkour kita akan berkompetisi dengan diri kita sendiri. Pernah dikatakan bahwa musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri. Menaklukkan sisi negatif yang ada di diri kita berarti kita memiliki kekuatan untuk mengontrol diri dan memiliki potensi untuk mampu memimpin diri sendiri.

Bruce banner harus menguasai emosinya hanya agar monster hijau yang ada dalam tubuhnya tidak mengambil alih dan mendominasinya.



1.3 Bruce Banner ( Hulk )

Kompetisi dengan orang lain tidak lebih penting dari memiliki kemampuan untuk menguasai diri sendiri dalam mencapai tujuan menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya .

  
Artikel dibuat oleh Langit Wira
Editor: Andreas Lucio Ivanno 

Posted on Friday, May 23, 2014 by Andreas Lucio Ivanno

1 comment

scape


Parkour adalah metode latihan untuk melewati segala macam rintangan dengan menggunakan kemampuan natural manusia. 
Secara harfiah Parkour berasal dari bahasa Perancis yang  mempunyai arti “lari melewati/lari halang rintang” (Par Cours) yang dalam aplikasinya bisa dideskripsikan sebagai bergerak atau berpindah tempat dari point A ke point B seefisien dan secepat mungkin dengan menggunakan kemampuan dari tubuh manusia itu sendiri. Sebenarnya prinsip Parkour sudah ada sejak dulu sebelum manusia mengenal kata “Parkour” , namun aktifitas Parkour dideskripsikan dan dikenalkan ke seluruh dunia oleh seorang pria berkebangsaan Perancis yang dikenal dengan nama David Belle. 

  1.1 David Belle

Pengajaran Parkour menitik beratkan pada kemampuan suatu individu untuk mengenali kemampuan dirinya dan mengenali serta menghormati lingkungan sekitarnya. 
Adaptasi total adalah tujuan pembelajaran parkour. Secara pedagogikal, inti pembelajaran parkour ditujukan untuk melatih tiga aspek dalam diri manusia, yaitu physique (Aspek kemampuan fisik: kemampuan lari, lompat, memanjat, dan lain-lain), virile (Aspek kebugaran: ketahanan, kegesitan, kecepatan, kekuatan, dan daya ledak), dan morale (Aspek moral: semangat, keberanian, ketenangan, keuletan, kedisiplinan, dan keinginan untuk membantu sesama).

1.2 Instruktur Langit Wira memimpin pemanasan ( Warming Up )

Secara definisi, Parkour merupakan suatu bentuk metode adaptasi diri terhadap lingkungan sekitar agar kita bisa bergerak dengan aman dan nyaman dimana dalam prosesnya, praktisi bisa menemukan gerakan alaminya yang efektif dan efisien yang diperoleh dari hasil proses adaptasi yang bertahap. 

Definisi parkour sebagai metode adaptasi diri terhadap lingkungan sekirar ini mengajarkan praktisinya untuk jauh lebih bisa mengenal dirinya sendiri baik mental maupun fisik sebelum dia mengenal lingkungan sekitarnya. 
Definisi parkour ini juga mengajarkan praktisinya untuk bisa menempatkan diri dimanapun dia berada. Selain itu praktisi dituntut untuk bisa nyaman di lingkungan yang tidak nyaman sekalipun. Hal ini membentuk mental praktisinya untuk lebih kuat dalam menghadapi rintangan dan cobaan hidup. Banyaknya nilai – nilai positif dari sepenggal definisi parkour tentang adaptasi tersebut yang sebenarnya kita butuhkan dalam keidupan sehari-hari.  



 1.3 Parkour Surabaya di Rooftop ITC Surabaya

Posted on Tuesday, May 20, 2014 by Parkour Surabaya

No comments

Sejarah ScAPE Parkour Surabaya

Tahun 2007 menjadi tahun-tahun paling awam bagi masyarakat Indonesia khususnya Surabaya. Hanya beberapa, satu-dua saja, tidak banyak kata parkour terdengar, terbaca bahkan terlihat kegiatan parkour di tengah masyarakat pada saat itu. Namun sebuah film asal Perancis berjudul Yamakasi merupakan sebuah film aksi yang bisa dibilang film parkour pertama di Indonesia dan tanpa satupun kata parkour terlontar di dalamnya. Gabriel Mayo, seorang pemuda, drummer dan sekaligus mahasiswa UBAYA pada masa itu sedang penasaran tentang film Yamakasi yang baru saja ditontonnya. Rasa keingintahuannya yang besar membuat Mayo berselancar via internet dan menemukan sebuah kata yang menjadikannya kata kunci sekaligus awal tonggak sejarah Komunitas Parkour Surabaya berdiri dan terbentuk. Yes, he's the man, he's the founder, dialah pendiri Komunitas Parkour Surabaya yang kala itu menemukan kata "parkour". Seorang diri, Mayo mendalami apa yang dia pahami tentang parkour dari informasi dan artikel-artikel yang minim di internet. Pada masa itu memang sulit mendapatkan informasi tentang parkour tapi sekalinya menemukan, itu merupakan informasi parkour yang bisa dibilang sumber parkour yang tepat mengingat semakin tahun, parkour semakin kehilangan maknanya. Kembali membudayakan hidup sehat, Mayo memulainya dengan jogging pagi hari sebelum berangkat kuliah, push up, sit up dan varian latihan fisik lainnya yang bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Hingga teman satu bandnya terlihat terkejut melihat perubahan yang terjadi di pribadi Mayo, Mayo harus menjelaskan apa yang membuatnya berubah pada teman-temannya saat temannya melihat Mayo terpergok sedang melakukan sit up di sela-sela latihan musik. Juga ada yang melihatnya ketika sedang asyik melakukan quadrupeddal di kampusnya dan beberapa kawan lain yang harus Mayo jelaskan tentang parkour. Beberapa dari mereka tertarik akan penjelasan parkour dari Mayo, beberapa tidak. Mereka yang tertarik, mencoba untuk ikut latihan bersama Mayo. Mereka mulai menetapkan jadwal untuk latihan bersama Suatu saat, Iko, seorang teman yang berkuliah di kampus ITS Sukolilo Surabaya mengajak Mayo dan kawan-kawan untuk mencoba spot-spot yang ada di lingkungan kampus ITS tersebut. Obstacle yang beragam membuat Mayo dan kawan-kawan merasa nyaman untuk berlatih disana. Jadwal rutin mulai ditetapkan sejak saat itu. Selang beberapa hari, anggota baru banyak bermunculan. Mayo pun juga harus sibuk membagi waktunya dengan kegiatan lain. Sering kali tanpanya, mereka tetap berlatih sesuai jadwal namun tidak berlatih sebagaimana mestinya parkour harus dilatih. Bagaikan anak kecil, para penyuka parkour ini hanya datang berlatih untuk mempelajari dan menguasai gerakan-gerakan yang memiliki banyak penamaan dan itu sangatlah menyenangkan. Banyaknya anggota baru yang berdatangan, membuat perkumpulan ini berinisiatif untuk menemukan sebuah nama yang tepat sebagai sebutan mereka. "Escape",salah satu nama yang muncul atas dasar bahwa parkour juga merupakan suatu bentuk beladiri yaitu melarikan diri meskipun disinyalir penamaan tersebut muncul atas dasar pelarian dari kegiatan perkuliahan yang seringkali dirasa penat oleh praktisinya yang sebagian besar adalah mahasiswa. Escape sendiri menjadi nama yang ambigu dalam penulisannya karena seseorang berpendapat lain bahwa harus ada nama kota Surabaya dalam nama komunitas ini. Seseorang yang lain menjawab huruf "S" dalam kata Escape adalah singkatan dari Surabaya sehingga berubah jadi EScape. Yang lain lagi berusul untuk menanggalkan huruf "E" pada Escape maka berubah jadi Scape. "Lantas ketika Scape adalah sebuah singkatan, harusnya tidak cuma satu huruf yaitu"S" saja yang mempunyai kepanjangan. Apa kepanjangan untuk huruf yang lain?", pertanyaan lain terlontar. Pembahasan nama ini selesai dengan akhir yang mengambang karena mereka mendiskusikannya dalam keadaan berjalan untuk hijrah ke spot yang lain di ITS. Suatu ketika, mereka mendapatkan kesempatannya yang pertama untuk muncul di surat kabar. Usai sesi pemotretan, wartawan mengajukan beberapa pertanyaan untuk mengisi liputannya hingga mereka menanyakan apa nama yang diberikan untuk komunitas ini. Terkesan seperti menjawab pertanyaan yang susah, mereka beberapa detik terdiam berpikir dan nama terakhir yang mengambang itu diputuskan untuk digunakan menamai mereka yaitu Scape. Seorang teman yang mengajukan pertanyaan terakhir tak terjawab sebelumnya menanyakan kembali di saat yang tidak tepat dan membuat mereka berdiskusi lagi bersama dengan reporter surat kabar. Muncullah sebuah nama Surabaya Community of Ape yang disingkat ScAPE. Sebuah nama berbahasa Inggris yang dinilai mereka sangat keren meskipun terdengar aneh di telinga. Huruf "c" yang kecil diantara huruf besar yang lain diartikannya sebagai mereka adalah komunitas kecil di Surabaya dimana parkour sebagai aktifitasnya yang masih relatif belum banyak dikenal dan digeluti masyarakat saat itu. Jelas atau tidaknya asal usul sebuah nama, tetap saja ScAPE telah menorehkan namanya dalam sejarah parkour di Surabaya. Bisa saja mereka adalah komunitas pertama yang ada di kotanya dan yang pasti, mereka adalah kami yang masih berdiri hingga kini.
Kami adalah sekelompok pemuda yang masih belia dalam mendalami parkour saat itu, tanpa informasi yang cukup dan pengetahuan yang matang, kami banyak menghabiskan hari-hari kami untuk berlatih, dalam arti lain, kami bersenang-senang. Tidak ada artikel-artikel penting yang bisa kami baca dan pahami dan pelajari dalam parkour. Kami banyak menyalahartikan prinsip, seperti salah satunya, "no pain, no gain", kami menerjermahkannya luka adalah hal yang biasa di parkour, tanpa luka berarti kami tidak belajar. Suatu ketika Danimaru, sahabat kami mencetak sebuah artikel untuk kami baca. Artikel berjudul Delusi yang ditulis oleh Chris Rowatt, seorang praktisi parkour yang kini menjadi seorang instruktur di Parkour Generation. Banyak pesan yang ingin penulis sampaikan disana tapi kami bagaikan anak kecil yang mempunyai mainan baru sehingga tidak ada orang yang bisa mengingatkan kami bahwa kami salah dalam memainkan mainan baru tersebut. Kamipun terus bermain, berlari, meloncat, bergantung. Semakin tinggi, semakin cepat, semakin berbahaya yang kami lakukan dan sukses adalah satu bentuk pencapaian berbonus tepuk tangan yang kami cari.
Bermain dengan ketinggian adalah favorit kami, karena tanpanya, kami menganggap identitas sebagai praktisi parkour akan kurang terlihat pada diri kami. Seseorang dari kami menjatuhkan diri dari ketinggian 2,5 meter dengan tulang kaki patah ketika telah sampai di bawah. Menjadi sebuah momen tak terlupakan dalam sejarah kami. Setelahnya, banyak dari kami yang menghilang dari ScAPE hingga tersisa beberapa yang bertahan. Peristiwa itu banyak memberi pelajaran bahwa apa yang kami lakukan tidak seharusnya secepat itu. Banyak proses di parkour yang kami percepat, banyak hal yang kami terima tapi tubuh menolaknya. Sebuah titik balik bagi kami untuk lebih mendalami parkour ke depannya.
Lutfi AKA Radd, adalah anggota ScAPE yang menghubungkan kami dengan Parkour Indonesia, sebuah komunitas besar parkour yang ada di negeri ini untuk menaungi komunitas-komunitas parkour di tiap kota di Indonesia. Tanpa kami tahu, Lutfi jugalah salah satu pendiri Parkour Indonesia, karena Parkour Indonesia dulunya merupakan sekumpulan para pecinta parkour yang saling terhubung lewat Parkour.net dimana Lutfi juga sebagai membernya. Mereka saling sharing dan berdiskusi hingga memiliki misi untuk menyatukan praktisi parkour se Indonesia hingga muncullah Parkour Indonesia yang biasa disingkat PKID. Dengan menanungi banyak komunitas di tiap kota, PKID juga memiliki misi untuk melestarikan parkour, menjaga nama parkour dan menyebarluaskannya. Jamming Nasional atau Jamnas merupakan agenda rutin PKID yang ditunggu-tunggu tiap tahun untuk mengumpulkan praktisi-praktisi parkour se Indonesia di satu kota dalam sebuah acara gathering, sharing, jamming atau latihan bersama dan lain sebagainya. Sudah terjadi enam kali Jamnas diadakan, Malang, Bandung, jogja, Surabaya, Bali dan Jakarta untuk tahun 2014 ini. Dengan tergabungnya kami di PKID, banyak manfaat yang telah kami ambil, dari koneksi atau relasi yang ada di seluruh Indonesia hingga pengetahuan dan pemahaman parkour yang semakin lebih baik lagi. Terima kasih PKID. Jaya selalu!
Tahun demi tahun berlalu, parkour di komunitas ini bagaikan hutan bagi anggota-anggota kami. Siapapun yang lemah, dalam artian lemah pemahaman akan parkour akan hilang dengan sendirinya. Adanya hukum alam yang ada di parkour membuat kami banyak merelakan para sahabat-sahabat yang pernah berjuang bersama namun harus pergi karena pilihan dan pertimbangan yang bermacam-macam. Seandainya mereka jauh memahami makna parkour, keputusan untuk berhenti parkour tidak akan mereka pilih. Banyak generasi yang bergulir, banyak wajah datang dan pergi, banyak kesamaan nama dengan wajah dan cerita berbeda ini tidak membuat kami putus asa untuk terus menyuarakan parkour di Surabaya. Dalam keabuan makna parkour dewasa ini, kami ada untuk memperjelasnya, sejelas hitam dan putih.


Posted on Tuesday, May 20, 2014 by Parkour Surabaya

No comments

scape

Open Recruitment

Kepengurusan ScAPE Parkour Surabaya.
Pendaftaran dibuka tgl 12 Mei - 19 Mei.


Cara pendaftaran:
Ketik Daftar [ spasi ] Pengurus [spasi] Scape
kirim ke 083856007290

Posted on Thursday, May 15, 2014 by Parkour Surabaya

No comments

scape

Sadari bahwa kecelakaan bisa terjadi pada siapapun. Sadari pula bahwa kecelakaan juga merupakan pilihan. Jika kecelakaan adalah satu bentuk dari hal buruk yang terjadi, kita bisa memiliki pilihan yang lain yaitu hal baik dimana lawan kata dari kecelakaan adalah keselamatan atau selamat.
Saya bermain analogi disini, keburukan berlawanan dengan kebaikan, begitu juga kecelakaan berlawanan dengan keselamatan. Sekedar mengingatkan bahwa selalu ada pilihan dalam hidup, tinggal kita berada dalam upaya yang mana di hidup ini, sedang berupaya dalam kebaikan atau keburukan.



 1.1 Parkour Jawa Timur Coaching Clinic 2013 ( Surabaya )
 
Kecelakaan bisa saja terjadi saat kita sedang berada pada jalan yang benar (kebaikan). Bagi seseorang yang pintar dalam mengambil hikmah, kecelakaan ini menjadi sebuah pembelajaran yang berharga, kecelakaan ini memberikan sebuah pesan peringatan bahwa ada hal yang perlu dibenahi sehingga dia akan mengevaluasi diri dan bangun untuk mencoba kembali membenarkannya.
Bagi mereka yang mengalami kecelakaan namun pada jalan yang salah (keburukan), mereka seringkali kurang memahami arti dan hikmah atas apa yang menimpanya. Banyak pula dr mereka yang memberi hikmah dan pesan yang salah dari apa yang dialaminya. 

Kecelakaan bagi mereka seringkali diartikan "faktor x", "tidak beruntung" atau "apes". Ini adalah hikmah yang mereka simpulkan sehingga mereka tidak melakukan evaluasi diri dan pembenahan karena kecelakaan itu berakhir pada kesimpulan kata "apes". Sebuah kata sederhana yang mensugesti otak untuk berhenti berpikir dan mengevaluasi diri. Ketika mereka mencoba bangun dan mengulangi lagi, mereka sama halnya hendak melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kali.



1.2 Morning Class Parkour Surabaya ( 7 Juli 2011 )


Saya merumuskannya seperti berikut; melakukan sesuatu yang salah maupun benar, keduanya memiliki potensi untuk terjadi kecelakaan. Namun kita memiliki pilihan untuk meminimalisir kecelakaan dengan berusaha untuk berada di jalur yang benar.

Apa yang ada di pikiran anda ketika bahasan kecelakaan di atas saya kaitkan dengan parkour? Masihkah anda berpikiran seperti berikut; parkour dan kecelakaan itu sangat identik, parkour adalah olahraga ekstrim, jadi sangat wajar kalau terjadi kecelakaan atau malah parkour tanpa kecelakaan berarti sama dengan belum belajar parkour. Apakah kalimat-kalimat ini yang ada di kepala kita? Jika ya, saya yakin bahwa anda sangat berpengalaman sekali di bidang kecelakaan, namun kurang memahami parkour.
Sekarang saya akan mengajak anda untuk berandai-andai dengan permainan analogi lagi untuk mempermudah memahami parkour dalam konteks bahasan ini. Saya akan membuat permisalan dengan parkour adalah atau sebagai sebuah pisau buah.

Si A adalah orang baik, semasa hidupnya dia ingin menjadi orang yang berguna dan bermanfaat bagi orang lain di sekitarnya. Kemudian dia menemukan sebuah pisau, yang dia lakukan adalah mengenali jenis pisau apa yang dia temukan, terkadang dia mencoba menanyakan ke tiap orang yang dianggapnya mengerti, terkadang dia cari tahu di internet. Si A pun mendapatkan jawabannya bahwa pisau ini adalah pisau buah.
Si A mencoba memanfaatkan pisau itu untuk belajar mengiris dan memotong buah. Namun kecelakaan terjadi, pisau itu mengiris sedikit kulit dari ibu jarinya. Si A berhenti sejenak dan sembari mengobati lukanya, dia mencari tahu lebih lanjut bagaimana cara mengiris buah yang benar. Dia menemukannya, kemudian dia belajar dari kesalahan dan belajar menggunakan pisau itu kembali, sukses dengan potongan buah yang pertama, dia mengulangi dengan buah yang kedua hingga banyak buah yang terpotong hanya untuk meyakinkannya bagaimana memotong buah dengan benar. Si A tidak berhenti disitu, dia mulai belajar memotong beberapa buah yang berbeda karena beda buah, beda pula cara mengupas kulit dan memotongnya. Bahkan dia memahami ada beberapa buah yang tidak bisa dipotong dengan pisau buahnya seperti kelapa dan aren. Dia menikmati hasil kerjanya untuk membantu hidupnya sendiri. Sejak dia menemukan pisau buah itu, banyak perubahan positif di hidupnya. Dari sebuah pisau, dia memahami banyak wawasan tentang buah dan manfaatnya bagi kesehatan. Sekarang si A dikenal banyak orang karena restoran makanan kreasi buahnya mampu menyadarkan masyarakat tentang hidup sehat.

Di sisi lain, si B adalah seorang yang tidak suka berpikir kritis dan analitis, malah si B adalah tipe orang yang terlalu obsesif dan sering berpikir negatif. Banyak dendam yang mengisi hidupnya. Baginya, hidup bagaikan kompetisi dimana dia harus menang apapun caranya. Suatu saat si B menemukan sebuah pisau. Yang dia lakukan adalah membawanya dengan wawasan sekedar tahu bahwa pisau yang dibawanya itu tajam. Suatu saat, si B sedang berselisih dengan orang di jalan, dia berpikir itulah alasan mengapa dia menemukan pisau. Tanpa perlu penjelasan kronologis, si B berhasil melukai dan membuat takut orang itu. Sensasi ketika mengayunkan pisau, kepuasan ketika membuat orang lain takut padanya, perubahan drastis ekspresi lawan dari ekspresi menantang berubah menjadi tunduk dan takluk di hadapannya membuat si B menikmatinya dan ketagihan. Keesokan hari si B yang sengaja menciptakan perselisihan terlebih dahulu kepada orang lain di jalan. Sekali lagi si B berhasil menunjukkan pisaunya dan menakuti orang lain. Hal ini berulang-ulang dia praktikkan hanya untuk membuatnya disegani orang lain, membuatnya dianggap tidak ada yang bisa mengalahkannya hingga suatu saat dia mengulanginya lagi. Dia bertemu dengan orang dan menantangnya. Seperti biasa, pisau dikeluarkannya tapi lawannya tidak menunjukkan ekspresi takut sedikitpun. "kau pikir kau bisa membunuh orang dengan pisau buah?", tanya orang itu pada si B. Pertanyaan yang itu tidak membuatnya takut tapi pengetahuan sempitnya yang membuatnya khawatir. Dia tidak mengetahui bahwa pisau yang digenggamnya ternyata pisau buah.

Tidak ingin ketakutan mendominasinya, si B menyerangnya terlebih dulu dengan pisaunya dan kecelakaan menimpanya, mata pisau buah itu terlepas dari pegangannya dan mengenai tubuhnya sendiri.
Tidak seperti si A, si B tidak mempunyai waktu untuk selamat dari kecelakaan karena dia tidak memahami pisau apa yang digenggamnya, dia tidak memahami fungsi utama pisau yang digenggamnya, dia tidak bijaksana terhadap semua tindakannya.




 1.3 Jamming Nasional Parkour Indonesia 2013 ( Surabaya )

Sama halnya dengan parkour, mengenali dan memahami terlebih dahulu apa dan seperti apa parkour itu merupakan salah satu sikap tindakan meminimalisir kecelakaan yang paling utama. Menjadi kritis dan analitis di parkour sangatlah penting seperti kita menyikapi sebuah granat sebelum kita memainkannya untuk bermain bola.
Menempatkan diri dalam bahaya merupakan tindakan yang ekstrim dan parkour bukan kegiatan ekstrim. Di parkour seharusnya kita memposisikan diri untuk siap terhadap bahaya.
Apa yang kita lihat dan anggap tentang parkour akan sama terhadap apa yang kita dapat darinya.


Artikel dibuat oleh Langit Wira
Editor: Andreas Lucio Ivanno

Posted on Monday, May 12, 2014 by Andreas Lucio Ivanno

No comments

scape


Tantangan yang ada dalam parkour, bukan dicari oleh setiap praktisinya, tantangan muncul dengan sendirinya saat seseorang menggali potensi fisik dan mental terhadap
dirinya yang ada dalam latihan parkour. Perbedaan lain pada parkour yaitu, aktivitas ini tidak dikembangkan dengan cara kompetisi, baik secara kelompok, maupun individu.
Mereka percaya, bahwa untuk mengembangkan diri, dimotivasi oleh mereka sendiri dan tidak perlu menjatuhkan orang lain untuk memperoleh kemenangan.Dan parkour tidak hanya latihan untuk tubuh secara fisik, tapi juga filosofi dalam membela diri, mempertahankan diri dan cara bergerak dalam menjalani kehidupan.

Posted on Saturday, May 10, 2014 by Parkour Surabaya

1 comment